Banner Image 1
“Metaflora adalah jenama sandang yang peduli pada keberlanjutan lingkungan, budaya, dan generasi.” Kami merajut warisan dengan inovasi, menciptakan karya yang tak hanya indah, tetapi juga bermakna. Setiap helai yang kami hadirkan lahir dari proses yang menghormati alam, menggali nilai tradisi, dan beradaptasi dengan zaman. Dengan desain yang relevan serta bahan yang bertanggung jawab, Metaflora mengajak generasi kini untuk lebih berkesadaran demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Semua bermula dari sebuah kegelisahan, 

Hidup di Pekalongan, kota yang telah lama menjadi rumah bagi industri sandang, membuat kami memahami betul bagaimana pakaian yang kita kenakan memiliki penceritaan panjang. Namun, dibalik keindahannya, kami juga melihat kenyataan yang mengkhawatirkan.

Industri bergerak semakin cepat. Air tanah terkuras, limbah pewarna mengalir tanpa kendali. Di tengah gempuran produksi massal, ruang bagi tradisi sandang Nusantara semakin menyempit. Benang-benang yang dulu dirajut dengan kearifan lokal, kini lebih banyak datang dari tempat yang jauh, membawa kita semakin terasingkan pula dari akar budaya sendiri.

Dari kegelisahan itu, Metaflora lahir untuk membuat, juga sebagai upaya untuk merawat.




---------------------------------




Falahy Mohamad – Pendiri Metaflora


Saya tak pernah menyangka bahwa langkah saya sebagai arsitek justru membawa saya kembali ke tanah kelahiran dengan kegelisahan yang terus menghantui. Saya pulang, tapi yang saya temui bukan sekadar kenangan, melainkan sebuah realitas yang mengusik. Batik, yang sejak kecil begitu lekat dalam keseharian, perlahan kehilangan tempatnya. Ia tersingkir di tengah derasnya arus fast fashion, terjebak dalam sekat formalitas, semakin jauh dari generasi muda yang seharusnya menjadi penerusnya.  

Saya tidak bisa tinggal diam. Batik bukan sekadar warisan yang harus dijaga dari kejauhan, tetapi sesuatu yang harus terus hidup, bernapas, dan berkembang. Kegelisahan itu mendorong saya untuk menyelaminya lebih dalam. Saya memutuskan menempuh pendidikan batik, belajar dari para pengrajin yang tangannya menggoreskan sejarah pada setiap kain. Saya menyentuh kain yang masih basah oleh malam, mencermati lekuk canting yang mengalirkan kehangatan, memahami bahwa batik bukan hanya tentang motif atau teknik, tetapi tentang filosofi dan napas kehidupan yang tak boleh terputus. 

Dari perjalanan itu, lahirlah Metaflora. Sebuah ruang yang saya bangun agar batik bisa kembali dekat dengan kehidupan, tak hanya menjadi pakaian seremonial, tetapi bagian dari identitas sehari-hari. Saya coba merancang tradisi sandang nusantara yang selaras dengan zaman—lebih sederhana, lebih berkelanjutan, dengan warna-warna alam dan desain yang relevan bagi generasi saat ini. Namun, Metaflora bukan hanya soal kain atau pola, melainkan juga tentang cara berpikir. Ini adalah ruang dialog antara tradisi dan inovasi, antara kearifan lokal dan tantangan global, antara akar yang kuat dan sayap yang siap menjelajah masa depan.